Strategi Mindfull Expansion ala Kopi Tuku

Ringkasan Singkat

Video ini membahas strategi pertumbuhan unik Kopi Tuku, sebuah merek kopi lokal Indonesia yang berhasil menyeimbangkan antara pertumbuhan yang sehat dan dampak positif bagi komunitasnya. Kunci keberhasilan Tuku terletak pada fokus terhadap "tetangga" (pelanggan), kualitas produk, pengalaman pelanggan, dan identitas Indonesia yang kuat. Tuku tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata, tetapi juga pada memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi para pelanggannya.

  • Kopi Tuku fokus pada pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan, tidak hanya ekspansi cepat.
  • Konsep "tetangga" menjadi kunci dalam membangun komunitas dan memahami kebutuhan pelanggan.
  • Kualitas produk, pelayanan, dan suasana yang nyaman menjadi prioritas utama.
  • Tuku berupaya mengangkat identitas Indonesia melalui produk dan strategi bisnisnya.
  • Keterlibatan dalam proyek seperti penamaan stasiun MRT adalah wujud kebanggaan dan tanggung jawab sosial.

Fenomena Kopi Lokal Indonesia: Antara Heritage dan Hyper Scaler

Industri kopi lokal Indonesia terbagi menjadi dua spektrum: toko kopi heritage dengan ciri khas kota tertentu namun gerai terbatas, dan merek hyper-scaler yang tumbuh sangat cepat. Kopi Tuku hadir di tengah-tengah, dengan pertumbuhan yang sehat dan cuan yang baik.

Awal Mula dan Inspirasi Kopi Tuku

Pada tahun 2015, Kopi Tuku didirikan dengan tujuan membantu petani kopi dan meningkatkan konsumsi kopi di Indonesia. Terinspirasi dari skena kopi di Jogja dan Melbourne, Tuku ingin menciptakan wadah yang membuat orang lebih sering minum kopi. Es kopi susu menjadi populer karena permintaan konsumen akan minuman kopi yang dingin dan legit.

Belajar dari Tetangga dan Memperluas Dampak

Inspirasi dari petani kopi, pelaku industri, dan tetangga Tuku di Cipete melahirkan slogan "lahir karena mimpi, besar karena tetangga". Konsumen memberikan konteks yang lebih besar tentang bagaimana Tuku dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Ekspansi dilakukan untuk menjangkau lebih banyak "tetangga" dan memberikan dampak yang lebih besar, bahkan hingga ke luar negeri seperti Korea Selatan dan Belanda.

Belajar dari Pasar Global: Korea Selatan dan Belanda

Kunjungan ke Korea Selatan dan Belanda bertujuan untuk belajar dari pasar yang berbeda. Di Korea, Tuku belajar tentang bagaimana mereka memaksimalkan SDM dan mengembangkan budaya mereka. Di Belanda, Tuku melihat banyaknya diaspora Indonesia yang cinta Indonesia dan potensi untuk berkolaborasi dengan masyarakat lokal. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan diri Indonesia di dunia global.

Tetangga Tuku: Lebih dari Sekadar Pelanggan

Tuku tidak hanya ingin menjual kopi, tetapi juga membangun komunitas yang baik. Melalui hashtag #bertetanggabaik, Tuku mengajak komunitasnya untuk melakukan kegiatan positif seperti menanam pohon dan kegiatan sosial. Tuku ingin diingat tidak hanya karena kopinya, tetapi juga karena gerakan-gerakan baik yang dibentuknya.

Pertumbuhan yang Mindful dan Legacy yang Ditinggalkan

Meskipun ada kesempatan untuk menjadi hyper-scaler, Tuku memilih untuk fokus pada pertumbuhan yang mindful agar tidak mengorbankan kualitas dan hubungan dengan pelanggan. Tuku ingin membangun legacy yang positif bagi industri kopi dan Indonesia. Kecepatan pertumbuhan yang ideal adalah yang tidak merugikan hal lain dan memaksimalkan kesempatan dengan baik.

Budaya dan Filosofi Tuku: Menyenangkan dan Fokus pada Solusi

Core values Tuku adalah "menyenangkan", yang berarti menciptakan lingkungan kerja yang bahagia dan memberikan produk yang menyenangkan bagi konsumen. Tuku juga fokus pada solusi dan berpikir taktis dalam setiap tindakan. Setiap ide harus mempertimbangkan dampaknya bagi konsumen atau tujuan yang lebih besar.

Faktor yang Berkontribusi pada Produktivitas Tuku

Produktivitas Tuku didukung oleh beberapa faktor, termasuk desain toko yang fokus pada takeaway, pengalaman pelanggan yang dibangun melalui produk, pelayanan, dan suasana, serta branding yang kuat. Tuku ingin memperbanyak alasan orang untuk datang ke Tuku, tidak hanya karena kopi yang murah atau dekat.

Definisi Keren ala Indonesia dan Manfaat Produk

Tuku ingin mendefinisikan "keren" ala Indonesia dan membangun brand yang memberikan manfaat bagi konsumen. Tuku ingin menjadi mood booster atau everyday luxuries bagi pelanggannya. Meskipun banyak brand lain yang menawarkan promo, Tuku fokus pada memberikan value yang sebenarnya dari produknya.

Filosofi Tetangga: Humanis dan Ekosistem yang Baik

Konsep "tetangga" di Tuku berarti humanis, baik kepada karyawan maupun pelanggan. Tuku ingin menciptakan ekosistem yang baik di mana orang merasa nyaman dan saling membantu. Pengalaman pribadi di Melbourne dan Jogja menginspirasi Tuku untuk menciptakan suasana yang hangat dan ramah.

Kenapa Tuku? Meningkatkan Konsumsi Kopi Indonesia

Nama "Tuku" berarti "beli" dalam bahasa Jawa. Misi utama Tuku adalah meningkatkan konsumsi kopi Indonesia. Tuku ingin menjaga kualitas dan filosofi dengan tetap mendengarkan masukan dari pelanggan dan memiliki tim yang kompak dan peduli.

Menjaga Konsistensi Kualitas dan Keterlibatan Pelanggan

Tuku menjaga konsistensi kualitas dengan mendengarkan masukan dari pelanggan dan memiliki tim yang peduli. Tuku memiliki grup internal untuk mengumpulkan komplain dan menindaklanjutinya dengan cepat. Barista juga dekat dengan pelanggan dan sering diundang ke acara-acara komunitas.

Eksperimentasi Menu dan Strategi Produk

Tuku melakukan eksperimentasi menu untuk memberikan sesuatu yang lucu dan berbeda di gerai. Beberapa menu diciptakan berdasarkan keputusan strategis, seperti penggunaan kelapa untuk mengangkat komoditas Indonesia. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan pada es kopi susu dan mengeksplorasi kelebihan Indonesia.

Naming Rights MRT: Kebanggaan dan Tanggung Jawab

Keputusan untuk mengambil naming rights stasiun MRT Cipete Raya adalah wujud kebanggaan dan tanggung jawab Tuku sebagai brand lokal. Tujuannya adalah untuk meng-excalate Cipete dan memberikan dampak yang lebih besar bagi komunitas. Tuku berharap dapat memberikan impact yang lebih besar melalui bisnisnya dan mengemban tanggung jawab yang telah dibangun.

Summarize any YouTube video in seconds

Get summaries like this one for any video, in your language, with the free Summ app.

Download on the Apple Store
Get it on Google Play

Transkrip

YouTube Transcript Generator

0:00 Ada satu fenomena yang unik, menarik untuk kita kupas di merek Kopi lokal Indonesia. Karena kalau kita bicara industri kopi lokal Indonesia biasanya kebagi jadi dua spektrum ya. Yang pertama adalah nih toko kopi heritage banget gitu. Ada satu kota jadi khasnya kota itu. Tapi gerainya enggak banyak. Di spektrum yang lain ini kebalikannya. Justru dia tuh hyper scalar. Dia tuh tumbuh bisa 1000 per tahun gerainya. Amazing. Nah, fenomena yang saya ingin angkat pada hari ini justru ada yang di tengah-tengah ini yang justru menurut saya ini tumbuhnya sehat, cuannya bagus dan ini bisa jadi kita contoh untuk apapun bisnis teman-teman semuanya. Apa itu brand kopi lokal Indonesia yang ada di tengah ini? Namanya adalah Kopi Tuku. Dan hari ini saya beruntung kedatangan

0:47 langsung Mas Andanu Prasetyo. Beliau adalah founder Toko Kopi Tuku dan juga CEO Maka. grup [Musik] Mas Dio, selamat datang di studio saya. Makasih banget waktunya. Alhamdulillah kita bisa ngobrol-ngobrol di sini. Alhamdulillah sebenarnya udah lama ya kita pengin ketemuan begini di studio untuk ngomongin kopi tuku. Tapi kalau hal baik kadang-kadang memang harus disempet-sempetan kan. Harus. Iya. Dan harus sabar juga ya. At juga ya. By the way, thank you banget untuk kopi tukunya. It's my favorite kopi bukan hanya di Indonesia, tapi in the whole worlds. Jujur gua gak bohong. Enggak hanya karena lu ada di sini.

1:32 Alhamdulillah. Berarti part dari tetangga tuku Bintaro berarti ini ya. Oh. Oh, Bintaro di sini. Rumah gua di Cibubur. Oh, iya. Iya. Ada enggak jauh dari rumah gua sih? Tok kopi tuku. Cibubur yang di mana, Mas? Di Cibubur Poin itu ada enggak gede tapi jos lah kalau rasanya. Oke. Anyway, gini, Mas. Tadi aku ngomong ke teman-teman ya, bahwa kopi toko ini menurut aku unik. Dia ada di tengah yang biasanya untuk either heritage atau hypersaler banget karena yang gede banget gitu ya. Oh i ya. Pertanyaanku, aku punya banyak pertanyaan. Aku mulai dari sini dulu. Apakah itu didesain sejak awal kayak begitu atau ketemu di jalan? Ee cara bertumbuhnya ya. He kenapa kok airnya jadi sitat in the middle tadi itu loh, Mas. Oke. Jadi apakah dari awal emang gua pengin sit midle nih gitu

2:17 karena strategitu atau itu sambil jalan akirnya ketemunya ke situ gitu. Aku kayaknya beberapa hari yang lalu atau seminggu yang lalu tuh juga ada yang ngomong bahwa yuk gua ingat gua pernah wawancara lu atau kita ngobrol waktu itu lu jelas banget ngomong ke gue lu enggak mau punya cabang yang banyak. Hm. Terus kenapa sekarang lu ada di sini gitu. He. Nah. Em. Tapi mungkin kalau teman-teman juga ngikutin ceritanya Tuku, awalnya itu kan 2015 konteksnya adalah ee kegelisahanku melihat pertumbuhan industri kopi. Ee keinginan untuk bantu petani kopi. Dulu biasa pemain kopi pasti gitu narasinya. Pengin bantu petani kopi, bikin kopi Indonesia jadi

3:03 raja di negeri sendiri kata-katanya biasanya gitu kan. ee dari semua senior-senior di industri kopi dari brand-brand kayak macam-macam ya kalau Oh, enggak apa-apa ya sebut brand enggak apa-apa kan ya ada kayak anomali, ada Jakarta coffee house. Dulu juga di dekat rumahku tuh ada Bloom Chen Coffee ngobrol-ngobrol sama Kaswells Coffee gitu. Jadi, ee banyaklah senior-senior industri kopi yang aku enggak bisa sebutin satu-satu yang ngasih aku banyak ee pesan-pesan moral gitu, inspirasi bahwa oh ya banyak ee kita harus ngambil ee peran buat industri kop Indonesia. Nah, ee sambil itu berjalan 2000 mungkin dari Starbucks datang 2000-an, kemudian anomali tumbuh 2005-an,

3:51 kemudian juga naik jadi specialty coffee naik 2010 ke atas, artisan mulai naik gitu kan. Emm aku aku tuh melihatnya kayak emm apa ya? bertumbuhnya sudah bagus, banyak cita rasa baru. Tapi kita sebagai negara produsen waktu itu bahkan masih ketiga di dunia yang akhirnya turun ke keempat di dunia. I tapi semua it's about numbers terus the quality-nya belum terbahas. Jadinya ee pada saat kita ngomong produk produksi itu juga arabikatornya tidak terbahas. Grade-nya berapa tidak terbahas. Dan akhirnya ee sambil jalan 201213 mulai main-main ke kota lain Indonesia, mulai main-main ke kota lain di Australia ee ggunain

4:38 tabungan buat hidup di sana luntang lantung. He dan alhamdulillah terinspirasi melihat skena kopi di Jogja dan Melbourne saat itu. Yang akhirnya aku merasa untuk bisa ningkatin konsumsi Indonesia tidak cuma bantu petaninya aja, tapi bikinin sebuah wadah di bawahnya yaitu di hilirnya. Oke. Bikinnya sebuah scene yang membuat orang dari jarang jadi sering untuk ngopinya itu sendiri. Makanya aku merasa tanggung jawabku di distrik kayak Cipete saat itu, He. Di Kelurahan Cepete Selatanku, aku ngerasa itu udah harus jadi ee misi tersendiri dulu gitu kan. Makanya ya udah dapat kesempatan 2015 setelah punya toots house dulu di Cepete ee punya bangun industri kopi eh bikin toko kopi

5:24 terus akhirnya es kopi susu kan tidak ada dari awal kan. He. Nah, cuma pas mulai jalan ee ada permintaan cita rasa tersendiri tuh. Mau yang dingin, mau yang kopinya legit, kopinya masih terasa. Ya udah tu dulu aku cuma mikir cari kopi yang terjangkau. Sampailah dicari yang terjangkau tapi dengan cita rasa yang menurut ee konsumen suka dapat es kopi susu itu dengan gula rennya kan. Emm. Nah, aku cuma pengin bilang kenapa sampai in the middle ini ternyata dari inspirasiku belajar petani kopi dari e pelaku industri ketemu tetangga tuku di cepete saat itu dan kita akhirnya punya ee apa ya tulisan kalau di stiker tokoh-tokoh tuh ada lahir karena mimpi, besar karena tetangga gitu. He. Jadi,

6:11 justru tetangga tuku konsumen-konsumen kita yang ngasih kita konteks lebih besar lagi kebermanfaatannya bisa lebih besarnya seperti apa. Dan ternyata being jadi satu cabang itu ee tidak cukup buat tetangga tu yang lebih luas lagi yang pengin kita yang enggak dari cepetnya lagi. Jadi dari situ ya kita belajar memperbesar ee ruang lingkup tetangganya dan akhirnya ee membesarnya itu membuat kita belajar lebih banyak mengeksplorasi apalagi kelebihan Indonesia yang perlu kita gunakan dan seberapa besar lagi impact yang bisa kita berikan gitu. Makanya kayak tahun ini aja atau tahun lalu mungkin ada berita kita pop up di soul gitu di Korea kita belajar aja gitu. H mungkin minggu depan kita berangkat lagi

6:58 buat e event kita keempat di Belanda ya itu juga buat belajar dulu gitu. Tapi yang jelas kami berusaha terus eh besar mau hyper scaler atau heritage or not. Ujung-ujung kita mau cari impactnya sebesar apa. Karena kan kita percaya tuku itu adalah sebuah orang kopi kan. Toko kopi itu adalah ruang baik yang melalui kopi mendatangkan sebuah komunitas baik, komunity baik. Nah, biasanya komunity baik, ngobrol yang baik-baik akan menghasilkan movement yang baik. Wah, cakep. Cakep. Penginnya segitu. Amin. Em, tadi disebut ke Belanda, ke Soul juga ya, mau ada pop up gitu ya. Itu pengin belajar. Itu belajar apa maksudnya? Belajar tetangga yang baru. Jadi, tetangganya jauh ke Belanda gitu ya. Tetangganya jauh. Akan kita akan melihat

7:45 sebuah masalah baru yang kalau kita bisa menyelesaikan berarti akan nemu solusi baru yang itu akan jadi sebuah kesempatan bisnis baru sebenarnya kan. Oke. Oke. Dan sedikit banyak em segitu banyak negara yang bisa kita coba. Heeh. Ee masih banyak negara yang mungkin possibility untuk sukses secara bisnisnya lebih besar. Lihat saya ngomong ASEAN aja rasanya lebih tetangga-tangga dekat aja itu secara bisnis kalkulasi akan lebih baik. He. Tapi mm dua negara ini me apa ya? menginspirasi men-triggerku untuk melakukan hal-hal kayak yang Korea. Aku ee sama bagaimana mereka mendayagunakan SDM mereka. Mereka tahu mereka enggak punya banyak ee ee apa namanya? Misalnya sebenarnya kayak kita misalnya, tapi dia fokus di SDM-nya dan

8:32 mengembangkan ee culturnya mereka sendiri. Aku belajar bahwa semua itu perlu confidence aja gitu. He. Nah, aku pengin menarik confidence keindonesiaan kita ini seperti apa. Karena kita enggak bisa k ayo dong anak muda cintai produkal itu enggak bisa diminta aja. Tapi mereka harus dikasih konteks yang lebih besar ya bagaimana itu what's in it for them gitu kan. Nah, pas aku ke Belanda, aku juga melihat begitu banyaknya diaspora Indonesia yang cinta Indonesia di sana. Oke. Bahkan terbagi menjadi beberapa gaya diaspora gitu. Kalau di negara lain mungkin cuma satu nih ada beberapa gaya. Dan ternyata pas kita ketemu lokal di sana pun juga segitu banyak yang easy sekali buat ngomong tentang Indonesia di Belanda kan. H karena kita punya related di sana. So, aku percaya kalau aku bisa

9:17 nge-crack ee problem di sana, menjadi mengambil peran baik di sana, memberikan warna buat di sana, itu akan jadi caraku yang belajarku untuk yang cukup apa ya, apa cukup ee apa ya, tepatlah ya buat masuk ke dunia global yang lebih luas. Karena ada diaspor Indonesia yang akan siap mendukung, akan ada udah banyak ee apa masyarakat lokal yang sudah tahu Indonesia. So, ini tinggal kita mengemas gimana yang hopefully yang aku pengin kejar adalah dengan kita bisa hadir di sana itu, itu kita akan membuat orang menjadi lebih percaya diri karena kita sudah dirilin dengan masa lalu kita bersama Belanda tapi kita melakukan hal yang positif dengan membuka dan apa menyajikan apa yang sudah kita miliki

10:04 dari Indonesia ke Belanda gitu kan. itu akan menjadi sebuah he apa ya benchmark baik atau sebuah brand yang penuh dengan movement baik despite jual kopi atau jual makanannya gitu. Right. Jadi belajarnya masih terkait dengan kopi ya. Jadi belajar market analisis dan juga consumer behavior dan ujungnya adalah supaya bisa buka cabang di sana dan akhirnya bawa Indonesia ke sana gitu ya. Jadi kebanggaan ada mungkin ada yang bilang itu buat kegiatan marketing ya. No, aku ini akan menjadi dunia yang berbeda lagi karena I believe e ya ini tadi aku kalau bikin grafik biasa kita akan turun ini akan jadi S curve kita yang baru gitu kan. Oh second s curve. Tapi tetap di industri coffee atau ada different kita akan expand lebih sih

10:49 cuma ya tapi kita dengar dulu aja konsumennya butuhnya apa gitu. Oke. Oke. Jadi kam ee Mas enggak enggak melimit ee itu harus kopi ya selama berangkat ke Sul ataupun ke Belanda tadi? Enggak. Karena alhamdulillah ya tadi tetangga tukunya banyak yang juga ngasih kita mimpi-mimpi baru. Jadi kayak kita let's say let's say punya hashtag bertetangga baik gitu. Itu adalah hashtag buat community-nya tuku. tetangga tuku yang mau melakukan misalnya kita mau ngomongin kita nanam pohon kek, kita melal sosial kek ee atau hal-hal yang ee untuk tetangga di sekitar gitu kan. Oke. Oke. Tapi kita juga punya hashtag tuku tiap hari gitu kan. Jadi ya terkadang orang memang ketuku buat ngopi tiap harinya. Tapi ada juga yang kayak aku bercandain selalu aku bilang ee ada orang datang ke situ cuma gara-gara em

11:38 pengin ketemu karyawannya atau dia tiba-tiba nemu jepit rambut karena si cewek ini enggak bawa jepit rambut gitu kan or apa namanya dia nemu kaos-kaos yang juga ah ini bahannya dia suka dan sebagainya. Jadi tuku sudah digeser bagaimana dia bisa ingat tuku ee tidak hanya karena kopinya aja. Habis ini setelah produk dia akan ingat dengan segala movement-movement baik yang dibentuk sama tuku gitu. W cakep. Aku pengin kembali ngomongin tetangga ya. Tapi sebelum sampai ke sana aku balik lagi ke pertanyaan awalku tadi ya tentang ini ada di tengah nih toku sekarang nih. Artinya kalau dengar jawaban Mas Dio tadi in the beginning sebenarnya heritage dulu satu dulu di ee Cipetek tadi ya. Heeh. eh yang benar-benar bagus dengerin customers penginnya apa yang aku baca kalau engak

12:23 salah sampai 2 seteng tahun ya meriset itu dengar dari para tetangga dari customers sampai kemudian ketemu racikan yang sekarang ini ya so itu kan amazing ya dedikasi sama 2 seteng tahun untuk menemukan itu gitu dan enggak buru-buru pengin expand lalu kemudian sambil jalan ya kenapa kita cuman bantuin tetangga yang ini kan tetangga kita banyak ya gitu dan akhirnya sekarang ada 60 tahun depan target kita 100 gitu nah ee aku nyambungin sedikit kita ada kesempatan bisa jadi hyper scaler yang tadi dokter bilang tapi pada saat kita membesar terlalu cepat, ada yang kita korbankan takutnya. Nah, apa itu ya tadi salah satunya orang yang berharap senang sama tuku karena rasa konsistensinya, right? Nah, dan juga berbagai engagement yang kita bentuk ya tadi kalau misalnya kita mau lebih dekat ya kita jangan selalu pergi jauh-jauh kan. Aku juga lagi cari formula yang

13:10 tepat bagaimana kita bisa tumbuh secara cepat namun tidak mtake for granted kanan hubungan yang sudah dibangun sama tangga tuku. Aku juga enggak mau cuma jadi ya udah penting e tamunya ramai dia beli selesai. Kayak kemarin kita kalau buka keluar kota kan kita harus pop up dulu, kita harus kenalan dulu, kula nuon dulu sama pemain-pemain di sana gitu kan. Karena kita mau bangun enggak cuma expanding tapi bagaimana kita ngasih warna baru di setiap kota-kota baru yang kita masukin kan. kemarin harusnya kita nyampai 100 di tahun depan. He. Tapi jadi aku potong. Oh, enggak jadi 100 target? Engak jadi 100. Karena tapi yang paling mendasar adalah kalau aku datangin orang ee lese 30 atau 50 toko baru di tahun depan itu akan membuat aku mendatangkan 50%

13:56 keluarga baru lebih dari keluarga baru. Nah, aku khawatir cultur-nya berubah. Oke. Ee dan I don't think it's wise gitu. Mungkin bisnisnya itu akan menarik, itu akan bagus. Tapi aku lebih pengin core atau fundamentalku kuat dulu gitu. Wow, ini menarik ya karena ini counterintuitif dengan em apa namanya dengan fenomena yang sekarang kejadian. sebenarnya itu ya ee kebawa dari zaman startup dulu lah ya yang everything itu harus diale gitu ya bahkan ee toko kopi pun bisa diklaim sebagai digital startup gitu ya somehow it doesn't make sense actually but investors buy it gitu dan udah kejadian kan sekarang gitu ya e saya juga paham eh kekhawatiran itu gitu

14:42 ya bahwa when you scale itu ada korbanannya gitu salah satunya adalah em ee maybe cultures-nya, the product itself, consistency yang ada di sana gitu. Karena itu enggak mudah untuk untuk bisa dipertahankan dengan skill yang berkembangnya terlalu cepat gitu. Emm e kalau menurut Mas Dio sendiri, how fast is fast yang itu safe sehingga kita tetap bisa maintaining heritage-nya itu enggak kehilangan itu? Mm bagaimana kita bisa fast tapi dalam konteks mindful kan ya? H pada saat kita main full kita tahukan tadi em let's say satu misalnya pada saat aku bilang satu builan satu cabang itu aja itu udah fast

15:27 buat aku. Mungkin teman-temanku yang brand lain udah bisa ada tujuh sehari mungkin. He. Tapi tadi em fast selama konteksnya mindful dan selama konteksnya adalah em tidak merugikan beberapa hal lain dan kita bisa tetap memaksimalkan kesempatan itu dengan baik ya aku ambil gitu. Cuma mm buat aku soalnya fast tuh bukan sebuah apa ya terminologi yang sering kita kejar e kita bahas gitu kayak mumpung gini nih kita harus cepat gitu. Ya, mungkin karena orang Jawa alan-alan asal kelakon itu matters dan aku percaya untuk namanya enggak ada namanya orang maraton itu lari gitu kan. He he. Tapi

16:14 bagaimana kita tahu pacing-nya ee kapan kita cepat, kapan kita tetap pelan supaya kita jalan lebih jauh gitu kan. So maybe for teman-teman yang melihat bisnis in 10 years akan exit ya mungkin dia perlu fast sekarang. He. Tapi since aku tetap merasa bahwa aku bahkan aku pengin ninggalin legacy. But what kind of legacy buat industry ini buat Indonesia? Setiap udah bikin ternyata ada kesempatan lebih ee ubah lagi kayak sekarang kita tahun ini mau ubah manifestonya lagi gitu kan. Vision-nya kita ubah lagi, kita jauhin lagi. Karena kita cuma percaya ee kita bersyukur dengan segala kesempatan yang didapat sekarang. So, kita percaya yang kita punya sekarang itu adalah banyak rezeki orang lain gitu. Jadi, e ya tadi

17:01 tetangganya enggak bisa kecil-kecil dicepet aja. He. Ee bisnisnya enggak bisa cuma dicopy aja, kita gedein terus. Semoga tuku selalu menjadi kendaraan baik untuk melakukan hal baik gitu kan. Jadi ya ya tadi em dalam konteks kita bisa secara mindful mengambil kesempatan yang diberikan Tuhan buat kita gitu. Wow. Emm khawatir kalau going too fast nanti eh budayanya mungkin enggak enggak enggak enggak enggak bisa intact gitu ya. Heak gitu ya. Dan apa filosofinya juga itu apa sebenarnya budaya atau value system atau filosofi yang ingin terus dijaga oleh tuku? Em tadi tuh Mas kita ubah lagi tuh

17:46 core values kita as a group enggak cuma di tuku tapi SMK grup juga. But salah satunya ada hal sederhana kita cuma bilang satu kata being menyenangkan gitu. menyenangkan itu juga didefinisikan dalam sebuah cor value itu tuh aku berharapnya lebih dari sekedar menjadi orang yang ya senyum dan baik sama orang. Tapi yang jelas bagaimana lu kalian menjalankan pekerjaan ini bisa happy, tapi juga kita cari profit tapi it's not about profit aja. Tapi benarkah ee ini akan menyenangkan dalam dalam kita menjawab sebuah produk itu benarkah menyenangkan buat ee konsumen-konsumen kita gitu. Jadi ya he kita put positivity di sana sambil di core value

18:31 lainnya misalnya kita fokus pada solusi gitu. Oke. So, kita enggak mau terlalu ribet gimana-gimana. Kita harus taktis, mungkin kita harus cepat. So, dilihat semuanya harus solution base. Aku cuma bilang satu paling gampang kalian lihatnya yang kecil banget, paling bawah banget. Biasanya itu adalah konteks paling bawah biasanya konsumen. He. Karena ujung-ujungnya ini mau kita bikin apa di konsumennya gimana atau kita tarik yang paling jauh di atas adalah purpose gitu. Jadi setiap kali ngide saya ngambil apa, silakan mau lihat apa efeknya buat konsumen atau karena kalian pengin jauh ke mana. Nanti di dalamnya baru misalnya di konsumen baru di dalamnya ada kayak how toya dengan ee budget berapa harus approach marketingnya gimana dan sebagainya. Oke. Tapi yang jelas berpikirnya ya kecil itu

19:18 atau jauh banget. Oke. Em dari sumber yang saya baca sekaligus clarify ya gitu bahwa dalam 1 hari omsetnya toko itu R miliar. Jadi dalam setahun dari 395 miliar ya ee dan itu kalau jadi jatuhnya rata-rata pergerai itu lebih tinggi dibandingkan banyak dari toko ee gerai kopi lainnya gitu. Apa yang berkontribusi pada itu? Ee aku tidak berani membenarkan dulu yang tadi, tapi em ee untuk menjawab produktivitas toko, mm pertama mungkin kita sel dipertanyakan kenapa kita bikinnya tidak ada meja dan sebagainya gitu kan. Jadi itu kan sudah menjawab untuk ee produktivitasnya supaya orang memang ken turnovernya supaya tinggi.

20:04 Oke, itu satu. Yang kedua, jadi fokus pada takeaway ya berarti ya pastinya kalau di kami em meskipun di kami terhadap kenyataan orang tetap nongkrong tapi akirnya cara nongkrongnya pun disesuaikan dengan gaya toko yang ada which itu enggak yang terjadi warungan banget sebenarnya which aku lebih happy yang seperti itu. He. Yang kedua emm kita percaya dari awal kita tuh bangun experience. dalam experience aku selalu bilang sama tim awakku yaitu ada produk, service, dan juga e ambience gitu. Em jadi ya tadi percayalah ada orang yang datang ke toku hanya karena dia lagi hamil gitu, dia enggak bisa beli kopi tapi dia pengin ke tokunya gitu ya. Mungkin karena dia pengin nyaman dia bilang, "Saya minum infus water ngobrol di sini juga enggak

20:50 apa-apa karena invest water kita gratis kan." He. Em tapi yang jelas jadi banyak kita perbanyak alasan orang untuk datang ke tuku. Hm. Jadi, yes, di luar sana banyak yang lebih murah, lebih dekat. He. Tapi ya kita perbanyak value supaya kita orang jadi pilihnya ke kita gitu kan. Jadi ee kenyamanan e yang membuat orang datang itu tidak selalu berupa ruang yang luas yang ada meja, kursi, colokan untuk laptop dan sebagainya. Yang itu kan selalu menjadi apa ya? J jadi ee itu textbook ee manual lah ya untuk FnB bisnis gitu. Nah, di case aku ya. Jadi tidak harus hmm dan apa yang ngebuat itu kok enggak harus ngikutin pakem itu ya diuku itu kan yang bagi saya amazing ya

21:35 kayaknya nih ini mungkin masuk ke poin ketiga tadi tentang branding atau ini tentang keindonesiaan juga kayak misalnya sekarang kalau ngobrol sama teman-teman pelaku industri kita bilangnya kayaknya kita sebagai anak Indonesia perlu definisiin keren itu apa deh oh kan dan itu keren buat siapa gitu right karena what apa yang kita jadi konsern sekarang adalah let's say misalnya di kami di toko dan di Maka Grup juga tidak membangun brand atau tumbuh tapi berlandas apa ya di atas consumerism orang gitu. H karena tidak mindful-nya market kita dalam membeli produk gitu. Jadi kita juga berusaha jadi brand yang harus ada benefitnya dong beli brand ini apa gitu.

22:20 He. Kopi yang enak danas komunitas baik tadi dan hasilkan movement baik. So, paling tidak e buat beberapa orang dari reset kita tuku sudah jadi mood booster atau everyday lecturies gitu. Gua BT hari ini gua beli minum tuku happy. Gua hari ini ngerjain tugas gua dan kelar, gua mau beli tuku karena gue happy. Atau gua lagi dimarahin bos, gua beli tuku biar gua happy. Itu datangnya dari branding atau datangnya dari environment di gerai tokonya? Itu somehow kami pun mencoba menset itu. Cuma kami juga tidak punya tidak spesifik lah, Dok. Kita kan pasti di awal sibuknya sibuk ops aja kan. Tapi alhamdulillah sambil kita ngobrol itu dengar cerita-cerita itu dan akhirnya kita formulasikan juga kan oh ini baik untuk diteruskan dan sebagainya

23:07 dan ya tadi ee keyword-nya tadi everyday luxuries itu gitu dan akhirnya oke mm ya tadi jadi ada beberapa orang yang bela-belain gitu meskipun jauh meskipun katanya kopinya ngantter 2 jam gitu serius jadinya dia lama itu dulu ya zaman dulu itu ada persepsi kayak gitu jadi kayak kayak sekarang misalnya ada omongan ee diiset brand lain turun sekian persen. Kenapa di salah satu platform ini siu naik sendirian? Hm. Nah, kalau dari riset kita yang kita tahu ya kayak biasanya kalau gitu berarti orang lagi balik ke kita. Oke. Karena dulu mungkin orang pindah karena promo terus orang jadi balik lagi. Akhirnya orang kejar value ya, actual value dari produknya ya, bukan bukan dari diskonnya ya.

23:53 Benar. Makanya kami senang banget. Aku pun juga masih berhubungan sama teman-teman kopi yang lain. Terus juga em beberapa hal di informally kita juga mungkin market juga bisa bandingin bedanya kita apa gitu kan. Jadi buat aku that's why aku selalu bilang aku enggak penting jadi nomor satunya gitu. Tapi yang jelas yang penting karakter kita clear, value kita clear. Jadi nanti akan ada momennya dia ingat brand kita dan akhirnya beli sama kita gitu. Dan itu yang ngebuat sustainable tu ada di situ. Aku percaya gitu. Bukan, bukan di ee pertumbuhan jumlah gerai yang banyaknya ya. Itu itu strategi untuk bisa tumbuh. Tapi kalau sustain belum tapi tetap it's a different game. Permainan yang berbeda sih. Apalagi kalau mait tadi ya. Oke. E balik lagi ngomongin tetangga nih. Karena tadi kata

24:38 tetangga tuh diulang-ulang dan bahkan ketika ee pendirian yang pertama di Cepete pun dipicu oleh tetangga tadi ya. Dan sampai hari ini tetangga tuh selalu dipakai gitu. Dan aku tuh memilih kata tetangga tuh unik. Ee sangat Indonesia menurut saya gitu. H tapi penasaran kenapa tetangga? Mm kalau aku ingat-ingat dari pengalaman pribadiku, Dok itu kayaknya memang misalnya waktu di Mburn gitu, aku ingat banget aku punya landing jam 0.00 pagi. Ngantuk masih ngantuk kan? Eh, kebetulan lagi ada kakak di sana. Jadi, aku samperin kakak dulu sebelum aku ke tempat tempat aku tinggal. Kakak aku

25:23 tidur sebentar sejam terus diajak sarapan jam 8annya itu. Pas aku sarapan itu stokku daerahnya bukan daerah kota gitu kan di suburb gitu. Aku jalan kaki tiga, empat blok tiba-tiba ketemu sebuah taman kecil terus ada kafe di sana. Hm. Tuh, kayaknya aku juga cukup jarang ke luar negeri kan. Jadi pas ngelihat kafe gitu kayak eh kaget juga kan rameai penuh orang sarapan biasa makan telur roti dan semuanya cappuccino semua terus aku merasakan vibnya yang pegawainya ramah banget bahkan dia tahu dong aku orang bukan orang situ kan dia tetap oke. Terus dia ngasih tahu halal enggak halal gitu-gitu lah. M aku cuma cuma bilang padahal kopinya enggak enak at

26:10 that time tapi aku nyaman banget di sana. Nah, perasaan hangat itu yang aku rasa menjadi kayak kayak ini basic manusia tuh juga butuhnya kayak gini deh. Enggak harus yang makanannya wah banget, tapi semuanya pas aja gitu. He. Nah, untuk bisa dapat pas itu buat aku ya karena harus dengan ekosistem yang baik gitu. Nah, ekosistem terkecil di kafe itu ya pasti neighborhood-nya kan. He. Jadi, pertetanggaan buat aku menjadi kental. Dan kebetulan aku juga merasakan itu waktu di angkerengan di Jogja gitu. He. Bagaimana si Masnya nyapa aku nanya dari Jakarta, ya pasti sini duduknya di gerobak jangan di trotoar gitu. Terus ngobrol sampai tengah malam

26:56 ngelihatin dia berinteraksi sama tukang parkir sama semua orang yang datang gitu. Dan u jujurnya memang kemasyarakatan ini gitu kan. Jadi dan Indonesia terkenal dengan ketimurannya kayak begitu. Kita punya gotong-royong gitu kan. Jadi kayaknya memang kita sudah difeeding dari kecilnya. Aku tahunya memang perasaan yang saling ngembantu itu dan bagaimana hidup sendiri tuh enggak enggak apa ya ada something yang missing gitu kan. Kita penginnya senang sama orang lain. He. Dan juga sedih juga penginnya ada yang bantu dan sebagainya kan. So, aku rasa sih memang tetangga tuh pasti segitunya ditambah biasanya kan dulu kalau kopi tuh snop banget gitu, Dok. Yang benar gini, yang salah

27:42 gitu. Nah, tapi kalau kita lagi minum di tempat orang kan ya disajiin ya minum aja gitu kan kita apresiasi, kita hargain. He. Terus kan biasanya rumput tetangga lebih hijau mungkin kopi tetangga lebih enak gitu. He he. Jadi that's why kita by naming, by value. Iya. I dikejarnya di sana sih. Jadi bagaimana filosofi tetangga itu dikonkretkan dalam baik dari pembuatan produknya ataupun operational kesehariannya kopi tuku sebenarnya sekedar menggunakan approach humanis sebanyak mungkin aja sih. Oke. So, definisi konkret dari tetangga itu humanis ya, baik kepada karyawan ataupun pada customers. He. Oke. Aku baru hari ini sih jawab itu. Cuma kayak kayaknya

28:28 gitu karena kayak bagaimana pas aku kan aku gambar sendiri, Dok, ya. Pintunya mau lebar berapa, kursinya mau di pantat kita lebar berapa, nyamannya gimana. Berdirinya, mejanya jangan terlalu tinggi. Mungkin kalau kita ngelihat textbook baru itu harus 90 cent gitu. Tapi kan kita orang Indonesia harus pendekin lagi deh. He. Cari mesin kopi ada yang tinggi-tinggi, cari yang kependekan biar kelihatan orangnya ya. Iya, kita orang bisa even aku pun tuh orang enggak introvert kan. Tapi aku bikin kursinya kita hadap-hadapan di ruangannya segini juga kan. Jadi awalnya award tapi lama-lama jadinya engaging. Jadi ya terus aku udah sengaja kayak toiletnya aku bisa aja bikin toiletnya pintunya ke arah tamu. Ini toiletnya pintunya harus masuk bar dulu biar nanti

29:14 ada permisi-permisiannya gitu. Oh gitu ya. Jadi e buat lucu-lucuan gitu aja sih sebenarnya. Jadi memperbanyak point of meeting ya kepada orang ya. Benar gitu yang random piti gitu ya. Jadi tidak sengaja ketemu air terjadi interaksi lumayan gorengan ngambil sendiri dulu. H ada koran gitu. Iya ya ya kayak kayak benar-benar kayak di tempat posis kamling bah kadang-kadang ya enggak konteksnya. Oke. Ee tuku sekarang kenapa tuku? E tuku itu beli. Kalau setahu saya orang Jawa, apakah itu apa? Karena misi terkentalku dulu adalah ningkatin konsumsi kopi Indonesia. Jadi ya oke. Jadi fokusnya kan emang bagaimana bikin orang jadi beli kan di cepet. Oke. Jadi

30:01 bukan singkatan tetanggaku gitu ya. Bukan ya tapi karena beli. Oke. Eh gue agak tchnikal sekarang ya. E karena tadi salah satu challenge kenapa enggak mau diskale dengan cepat adalah pengin jaga kualitas salah satunya ya dan juga filosofi dan culture tadi ya. Ee dan itu benar banget ada satu brand yang kayaknya dulu tuh asik gitu, tapi begitu dia skill besar kok rasanya kok lain gitu. Dan that is always a challenge untuk defend bisnis ya. Walaupun lu pakai resep yang sama, mesin yang sama gitu ya, tetap aja somehow bisa beda. Gimana cara tuku menjaga konsistensi kualitas dari produknya dengan jumlah yang walaupun enggak terlalu masif scaling-nya, but yat kan still scaling kan ya. Itu gimana? Mm.

30:46 Mm. Tetap tadi menurut aku penting banget ee kita tetap ngobrol sama tetangga tukunya. Tetangga tuku berarti customernya tuku ya, customernya. Aku bersyukur banget punya tetangga tuku seperti itu karena mereka until yesterday aja mereka masih DM aku gitu. If mereka merasakan ada sesuatu yang kenapa gitu. Oh, Mas aku cuma ngasih tahu aja. Aku sih cuma baru beli sekali, tapi coba dicek aja, Mas. Siapa takutnya ini soalnya ini gak enggak tuku banget gitu. Oh, Mas, aku udah cek di sini. Aku coba kemarin pas ke rumah mertuaku juga beli lagi. Pas aku ke sini aku beli lagi. Aku udah cobain tiga toko nih. Kok rasanya beneran beneran lagi berubah tiga toko konsisten berarti masuk resep ya. Hm. Jadi ya aku banyak ee diberkahi

31:32 sama tetangga tuku yang sangat peduli gitu. Jadi itu akan menjadi sebuah polisi-polisi di awal yang membuat kita juga bisa aware gitu kan. Dan alhamdulillah aku juga punya tim yang mereka juga sangat kompak gitu kan dan juga meng apa ya peduli dengan ee feedback-feedback tersebut gitu. Mereka muncul di grupnya terus langsung mereka m-follow up masing-masing ambil langkah apa ambil peran yang masing-masing dan secepat mungkin kita juga merespon itu gitu. nya itu berarti ada grup customer, grup WA customer gitu kan? Iya. Oh. Oh. Enggak sor bukan customer ya, tapi komplain oh. Jadi semua akan dikumpulin dari berbagai tempat dikumpulin di sini jadi event aku pun jadi tahu gitu kan. Oke. Oke. Tapi grup itu internal berarti

32:18 ya? Internal. Internal. Kalau yang grup WSD sendiri biasanya antara tokonya antara toko yang punya. Oh. Kayak kemarin bulan lagi bulan puasa ya udah mereka akan bikin bukber masing-masing di toko masing-masing customernya dan anak bersama dengan baristanya dan sebagainya. Oh iya. Oh menarik ya. Cuma kalau yang udah itu yang buat formalnya, tapi informalnya kemarin aku juga lihat-lihat juga beberapa barista yang barista ini yang akrab banget sama tetangganya. Maka akan diundang ke misalnya dibuka di komplek gitu. Nah, dua tiga orang biasa diajak. Oh, gitu ya. Atau geng ibu-ibu yang ini tapi ngajak setengah anak toko lah karena setengahnya nge-share. Sebegitu dekatnya ya dengan customer searti ya. Memang itu memang by design ya. Memang kita cari barista yang yang no no enggak e by

33:03 designnya standar. Kita cuma mau cari orang baik, kita cuma pengin dan kita enggak pengin dekat banget sama tangga. Enggak ya just bukan desain, tapi lebih ke arah kita sepakat bahwa perasaan kayak gini enak ya. Hm. kayak sekarang yang jadi SOP. Tapi itu padahal sebuah ketidaksengajaan adalah em dulu aku kalau ada orang tumpah gelasnya aku ganti lagi naik motor aku ganti. Nah itu aku kasih contoh ke teman-teman di toko eh di kantor. Ternyata mereka membuat itu menjadi sebuah mm aku enggak yakin itu jadi sebuah SOP juga tapi ee aku masih melihat itu sampai sekarang dilakuin sama anak baru sekalipun gitu. Jadi normal berarti itu jadi normal kayak gitu dan dan aku berharap itu karena

33:51 coba deh aku coba cuma ngingetin adalah coba kalian lihat rasanya rasa senangnya orang rasa apresiasinya orang begitu kita melakukan hal yang sesuatu yang kayak gitu gitu makanya aku selalu bilang ya kalau mauelakuin apa-apa dalam servis tuh harus sesuai harus cukup cukup means sesuai standar habis itu ditambah sedikit elemen surprise. Hm. Apapun itu. Hm. He. Insyaallah biasanya kita akan service levelnya akan naik sedikit. Oke. Ini kalau ngomongin ee produknya atau menunya di Tuku itu kan kadang-kadang unik-unik ya. Ada e kopi kelapa jeruk gitu ya, kopi sereh lemon gitu ya. Emm I eksperimentasi seperti itu seberapa payoff dan e kalau kita ngomongin ee kopi gulen

34:39 gitu udah udah standar lah ya. itu orang basic banget suka gitu kayak kita jualan ayam goreng di Indonesia kan pasti kan laku gitu ya tapi kan tetap tuku melakukan eksperimentasi ya dengan rasa-rasa yang berbeda itu itu emang suka gitu kalau boleh itu kebuka ya dan kedua seberapa itu payof untuk untuk atau tuh supaya orang enggak bosan aja paling enggak ada sesuatu yang lucu di di gerai gitu. Em kalau yang mungkin dulu yang aku agak-agak desain dari awal adalah aku tidak jualan maca. Hm. Jualannya a greay milk tea kan. Hm. Karena ee di situ zaman dulu aku udah pusing sama perdebatan kopi yang benar gimana. Aku enggak mau dibat lagi maca yang enak tuh yang pahit atau yang manis

35:25 gitu. Jadi aku menghilangkan itu. Ee kedua, aku bikin alg milk tea supaya beda aja kan. He. Nah, tapi digail aku juga berharapnya adalah warnanya kan kalau maca hijau. Kalau gram akan tetap coklat. He. Jadi meskipun perempuan minum e gram milti dia akan terlihat-terlihat kayak lagi minum kopi susu juga. Nah, akan terbentuk stigma ih gila di sini cewek minum kopi. Coba aja minum kopi. Itu satu zaman dulu. selebihnya kalau produk-produk lain kebanyakan, Dok, itu lebih karena keputusan aku secara strategis. H bukan dengarin konsumen. Hm. Sesederhananya aku lagi pengin ngajarin misalnya aku bisa aja jual orange juice gitu, Dok. He. Kenapa aku kasih kelapa?

36:12 Ya karena salah satu komoditas terbesar terpenting kita kelapa. Aku jualan ee pinggir jalannya kan STMJ. Aku bikinnya SKMJ. Susu kelapa, madu jahe gitu. Kelapanya lagi aku angkat. H. Sereh lemon. Remon itu waktunya karena pandemi karena disuruh minum sereh kan. Oh oke. Mm apaagi misalnya es goes gitu. H es goes itu adalah minuman buat anak sepedahan dulu. Oh karena goes gitu. Iya iya iya. Tapi rasanya air isinya adalah jeruk nipis, madu, dan juga air kelapa. Hm. Yang penting segar aja pokoknya gitu ya. I. Tapi ya on top of that

36:58 berirangkatnya adalah aku pengin mengembrace kelapanya Indonesia. Hm. Habis itu rasa di bawahnya aku cocok-cocok yang ketamunya. Oke. Oke. Jadi atau bikin coklat gitu? Coklatnya Indonesia. Jadi memang keputusan strategis di atasnya aku minta. Oke. Oke. Karena aku percaya market tuh ya di gimana kita ngebawanya aja nanti sebenarnya. Sejawaban itu payof secara bisnis. keputusan strategis itu dulu awal-awal berat karena tahunya Scopus terus tapi sekarang alhamdulillah sih dengan tim juga belajar terus mengkomunikasikannya bikin kegiatan terpisah nih buat si Sgoses ini bikinnya sepedahan keliling anak toko gitu nanti dapat minuman itu.

37:46 Atau kayak sekarang kita punya beragam pagi dan beragam sore. Itu kan kopi filter dingin. Itu adalah sebuah cara buat embrace keaneka ragaman kopi Indonesia, tapi bukan kopi susu. Tapi tetap enak. Kayak kalau orang di brand-brandnya mungkin misalnya ice filter atau Japanese ice Japanese coffee gitu. Kita buatnya di format yang sudah kita siapin. Tidak disebut ter originnya apa supaya tidak terjadi perdebatan ini apa gitu. Tapi kalau lu suka yang cocok yang pagi ini, yang sore ini gitu. H. Heeh. Jadi itu memang didesain aja si itu signifikan ee ngedongkrak penjualan dengan eksperimentasi rasa seperti itu dibilang signifikan mungkin tidak akan bisa ngalenes kopi susu tapi kita punya

38:31 KPI per tahun memang harus mengurangi ketergantungan terhadap Scopi susu. Satu. Yang kedua biar kita juga explore apalagi ya Kelebihan Indonesia yang bisa kita oke mainkan gitu kan. Tapi ya mendongkrak ya bikin orang jadi nambah dua deh paling. Ih aku pengin seger dulu habis itu minum masuk sesus. Oke crosselling berarti ya. Oke. E ini enggak sengaja enggak sengaja enggak enggak enggak enggak kerasa ini kita udah hampir 40 menit ngobrolnya. So one last questions. One last questions. Em akhir-ari ini agak ramai ya tentang eh naming rights untuk MRT ya toko gitu. Em apa di balik keputusan itu? Mm seperti yang aku sudah sampaikan,

39:16 biasanya itu adalah kada ulang tahun bersama kami dalam tahun ini kami 10 tahun. Em satu itu yang kedua MRT itu pas datang ke Jakarta kan kita tahu itu sah itu kan ya, Dok ya. Heeh. He. Kita kayak berharap kita jadi Singapura, berharap kita jadi kayak Jepang gitu kan ya. Itu rasa momentumnya jadi momentum baik sebenarnya. Jadi wajar aja kami dulu warga cepetnya wah expect bisa kayak coffee shop di luar negeri gitu yang ada di MRT gitu. He. Tapi saat itu yang masuk ternyata brand lain gitu kan. He. Tapi ya udah jalan. Tapi kita percaya bahwa MRT itu menjadi penghubung dan salah satu ee ee apa ya perubahan lah di situ. Dan

40:05 akhirnya ya mulai tuh ada naming rice terjadi di tempat-tempat lain. Ya udah kita mah bercanda aja tapi ya berhitung aja gitu. Sampailah di suatu hari aku bilang kayaknya ini tahun ke-10 ini menarik deh kalau kita coba cek. Oke, coba cek kita berhitung udah seberapa. Ternyata dapat cuma ternyata apa yang kita tabung sama apa yang kita harus bayarkan berbeda. Ternyata harganya tidak sama untuk cepet raya itu. Oh, gitu. Lebih tinggi ya? Lebih tinggi. Tapi ya dengan sedikit banyak kami juga ngotak-ngatik dan ternyata akhirnya ya udah enggak apa-apa. He kita lebih t kita kita mau kita mampu karena konteksnya tadi yang kita gain. Jujur aku pribadi aku enggak kebayang marketingnya sih, Dok. H yang

40:51 aku gain adalah mungkin as branding-nya kali ya. H dalam konteks aku bangga banget bisa mengexcalate Cipete yaitu mewakili hadir di Cipete di sebagai brand kayak Tuku gitu. He. He. Dan juga em kami percayanya mm semakin banyak belief baik orang terhadap brand ini, kepercayaan terhadap lokal itu efeknya juga akan jauh lebih besar daripada bisnis ke bisnis tukunya itu sendiri. Jadi ya dan ternyata itu memberikan efek marketing yang baik juga. He he. Jadi, alhamdulillah kita ee perjalanan ee proses naming R kemarin ya sekali lagi memberikan pelajaran bahwa kami bersyukur kami punya tetangga

41:38 tuku yang ada sekarang ini. He. Dan ternyata dengan Naming Ras ini pun memperkenalkan kami ke tetangga Tuku yang baru yang benar-benar kami enggak kenal. Jadi, h ee MRT juga benar-benar menyambungkan enggak cuma beberapa titik Jakarta, tapi juga menyambungkan orang-orang tetanggat yang jauh dari Tuku bisa datang ke Tuku. He. Dan selebihnya ini semoga enggak cuma jadi perayaan internal kami, tapi ya sekarang kami ada sebuah bangunan besar di Cepete bertuliskan MRT. E, Cepet Raya itu akan menjadi sebuah kebanggaan bersama setiap orang gitu. I. Nah, PR-nya selanjutnya adalah bagaimanakah kami seluruh tim tuku mengemban tanggung jawab dan juga persona yang sudah dibangun sendiri itu.

42:24 Betulkah kita akan memberikan impact yang lebih besar? Nah, itu yang juga jadi per selanjutnya. Wow, amazing. Itu pertanyaan yang kita semua rasanya harus ikut jawab dalam konteksnya masing-masing ya. He karena kita semua mengemban tanggung jawab itu. Benar. Ini bukan keren-kerenan, bukan cuma sekedar nama doang yaang. Tapi ada satu purpose tadi ya yang paling atas ya, bawah customer atasnya purpose yang lebih besar yang kita harus perjuangkan melalui bisnisnya kita. He ya. Thank you so much. Makasih banget Mas insightful banget. Thank you. Thank you. Than teman-teman. [Musik]

Share

Ringkasan Video YouTube